SITUS WARUNG BOTO (PESANGGRAHAN REJOWINANGUN)
BEKAS PESANGGRAHAN HAMENGKUBUWONO II
SEJAK 1711
Bila akan menuju terminal giwangan atau akan kekebun binatang gembiraloka melewati Jalan veteran akan menjumpai
sisa-sisa bangunan selintas seperti bangunan rumah biasa yang jadi korban gempa dan pemiliknya tak sanggup memperbaiki, puing puing bangunan berserakan tidak teratur dibiarkan begitu saja. Bangunan ini akan terlewatkan begitu saja dan menyangka bahwa bangunan itu merupakan bangunan biasa saja. Tapi, bila dicermati dengan seksama dihalaman depan ada papan nama yang cukup jelas mencerminkan apa sebenarnya bangunan ini dan membuat kita ingin memasukinya .papan nama yang bertuliskan situs warung boto pesanggrahan HB II dilindungi UU no.5 tahun 1992.
Pesanggrahan Rejowinangun merupakan salah satu
pesanggrahan yang dibangun atas perintah Sultan Hamengku Buwono II.
Pesanggrahan ini berada di sebelah timur Kraton Yogyakarta yaitu berlokasi di
sisi timur dan barat sungai Gajah Wong. Saat ini untuk sisa pesanggrahan sisi
timur sungai telah banyak yang hilang, sedangkan di sisa bangunan di sisi barat
sungai masih relatif menunjukkan sisa-sisa yang signifikan. Sisa bangunan di
sisi barat sungai secara administratif berada di Kalurahan Warung Boto,
sehingga peninggalan kekunoan Pesanggrahan Rejowinangun di sisi barat sungai
lebih sering disebut Umbul Warung Boto (selanjutnya disebut Situs Warung Boto)
Nama pesanggrahan ini setidaknya ditemukan pada dua naskah kesejarahan yakni dalam bentuk babad dan serat Macapatan. Pada serat Sinom tersebut lebih lanjut disebutkan tentang nama pesanggrahan- pesanggrahan yang dibedakan menjadi 2 waktu pembangunannya dengan tanpa menyebut angka tahun, yakni sebelum Sultan Hamengku Buwono II naik tahta dan sesudah naik tahta.
Pesanggrahan Rejawinangun dan Reja Kusuma dibangun ketika Sultan Hamengku Buwono II masih sebagai putra mahkota (Adipati Anom) sedangkan pesanggrahan Purworejo, Cendhonosari dan Wonocatur didirikan setelah beliau naik tahta sebagai sultan. Dari serat tersebut tidak terungkap bagaimana bentuk bangunan serta cakupan keseluruhan pesanggrahan. Dalam serat Rerenggan tersebut pesanggrahan Rejawinangun hanya disebut sebagai �klangenan� . Penyebutan klangenan dalam serat tersebut sebagai sebuah (bangunan atau lingkungan binaan) yang ditata dengan menonjolkan keindahan untuk dinikmati Sultan. Keberadaan unsur bangunan yang berintegrasi dengan unsur air sering diidentifikasikan sebagai sebuah taman, yakni merupakan area privat milik sultan dengan ciri tembok keliling yang tinggi. Taman merupakan tempat peristirahatan sultan dan kaum kerabatnya. Hal ini terungkap pula melalui Tijdschriff voor Nederlandsch Indie tahun 1884 tulisan J.F Walrofen van Nes yang mengupas tentang Sultan Hamengku Buwono II dan didalamnya sedikit menyinggung tentang Umbul Warung Boto. Disebutkan dalam tulisannya tersebut bawah Umbul Warung Boto adalah salah satu bangunan hasil karya Sultan Hamengku Buwono II yang berfungsi sebagai bangunan peristirahatan bagi raja dan keluarganya..±Pada waktu masih dimanfaatkan sebagai pesanggrahan milik sultan, pesanggrahan Rejawinangun didirikan pada sisi barat dan timur sungai Gajah Wong dengan memanfatkan undak-undak sungainnya
bagian timur bangunan memiliki 3 jendela dan dibawahnya terdapat kolam berbentuk U |
pintu keluar masuk dan tembok yang mengelilingi kolam disisi selatan |
Naskah sejarah lain yang menyebutkan tentang keberadaan Pesanggahan Rejawinangun adalah Babad Momana. Dari Babad Momana tersebut dapat diketahui dengan pasti bahwa mulai pembangunan Pesanggrahan Rejawinangun adalah di tahun 1711 tersebut cukup menarik, karena selama ini Pesanggrahan Rejawinangun dikenal sebagai pesanggrahan yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono II. Padahal pada tahun 1711 (1785 M) Sultan Hamengku Buwono I masih bertahta sebagai sultan Yogyakata. Jadi babad ini secara tidak langsung mempertegas apa yang disebut dalam Serat Rerenggan, yakni Pesanggrahan Rejawinangun dibangun ketika sultan Hamengku Buwana II masih sebagai Adipati Anom Amangkunegara. Catatan Belanda yakni oleh Gubernur Belanda untuk Jawa bagian timur, yakni J. Greeve yang pada kurun waktu tahun 1787 hingga 1791 pernah bekunjung ke Yogyakarta dan pada waktu itu ia bertemu dengan putra mahkota yaitu pangeran Adipati Anom Amangkunegara di Pesanggrahan Rejawinangun. Baru di tahun Je 1718 (1792 M) Pangeran Adipati Anom diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono II menggantikan Hamengku Buwono. kompleks bangunan di sisi barat sungai yang hingga kini masih meninggalkan bukti fisik yang cukup banyak. Bangunan-bangunan di sisi barat sungai atau kini sebagai situs Warung Boto merupakan kompleks bangunan berkamar dengan halaman berteras di sisi barat, dengan kolam-kolam pemandian yang berasal dari sumber mata air tawar (umbul). ya. Antara kompleks bangunan sisi timur dan barat sungai memiliki sumbu imajiner yang membujur timur hingga barat. Sumbu imajiner ini memotong pula aliran sungai Gajah Wong yang mengalir ke selatan. Hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti mengenai pemanfataan kompleks bangunan di sisi timur sungai, tetapi hingga tahun 1936 masih jelas terlihat jika kompleks bangunan sisi timur sungai terbagi menjadi 3 kompleks yang membujur utara-selatan dengan pagar keliling serta dihubungkan oleh jalan berpagar selebar 30 meter
Bagian terdepan ini berbentuk bujur sangkar dengan lantai yang
terbuat dari bahan semacam semen. Karena terletak di depan, mungkin bagian ini
berfungsi sebagai bangsal atau lobby seperti pada banyak bangunan yang ada
sekarang. Dari bagian terdepan, bisa dilihat pemandangan seluruh kompleks
pesanggrahan.
Di sebelah kiri bagian terdepan
terdapat tangga turun yang cukup sempit. Kami langsung bisa menduga bahwa
bangunan pesanggrahan ini mulanya terdiri dari dua lantai, seperti bangunan
pesanggrahan lainnya yang terdiri dari lantai dasar dan bawah tanah. Untuk
menuruninya perlu hati-hati, sebab bagian kanan kirinya tidak memiliki pegangan
dan banyak bagian yang telah ditumbuhi lumut sehingga licin.
Di
lantai bawah tanah inilah, banyak bagian bangunan yang mempesona bisa dilihat.
Bagian yang paling indah adalah areal taman yang dilengkapi dengan dua buah
kolam
Bangunan
Pesanggrahan Rejawinangun terbagi atas 2 bagian. Bagian pertama terletak di
sebelah barat, yakni bangunan yang mengelilingi dua buah kolam. Kolam pertama
berbentuk bulat yang berdiameter 4,5 m dan kedalaman 0,5 m. Kolam kedua
berbentuk empat persegi panjang dengan panjang 10 m dan kedalaman 0,75 m.
Bangunan ini merupakan bangunan bertingkat yang sebagian ruangan yang berada di
tingkat atas telah runtuh. Lorong-lorong yang terdapat di bangunan yang
mengelilingi kolam memiliki langit-langit berbentuk lengkung. Seluruh bangunan
di bagian ini merupakan bangunan bata yang telah menggunakan perekat dan
diplester di kedua permukaannya. Bagian kedua terletak di sebelah timur , yakni
bangunan kolam berbentuk kolam berbentuk U yang berdinding bata dengan ukuran
panjang 6 m, tinggi 3 m dan tebal 60 cm.
dahulu

Di bagian utara dan selatan bagian kedua ini masing-masing dijumpai patung manuk beri.Di sebelah utara dan selatan kolam terdapat pintu bertinggi sedang yang cukup lebar. Pintu itu menghubungkan dengan bagian lain ruangan bawah tanah. Di bagian timur kolam akan dijumpai jendela-jendela berjumlah tiga buah, satu berbentuk kotak dan dua lainnya berbentuk lengkung pada bagian atasnya.. Sementara di bagian barat kolam terdapat satu pintu yang bagian atasnya melengkung, menghgubungkan dengan dua pintu lengkung berikutnya yang dilengkapi dengan beberapa anak tangga. Dua pintu terakhir menghubungkan areal taman yang berada di bawah tanah dengan lantai dasar.
RERUNTUHAN BANGUNAN DISISI SELATAN DILUAR KOMPLEKS KOLAM

dahulu

Di bagian utara dan selatan bagian kedua ini masing-masing dijumpai patung manuk beri.Di sebelah utara dan selatan kolam terdapat pintu bertinggi sedang yang cukup lebar. Pintu itu menghubungkan dengan bagian lain ruangan bawah tanah. Di bagian timur kolam akan dijumpai jendela-jendela berjumlah tiga buah, satu berbentuk kotak dan dua lainnya berbentuk lengkung pada bagian atasnya.. Sementara di bagian barat kolam terdapat satu pintu yang bagian atasnya melengkung, menghgubungkan dengan dua pintu lengkung berikutnya yang dilengkapi dengan beberapa anak tangga. Dua pintu terakhir menghubungkan areal taman yang berada di bawah tanah dengan lantai dasar.
RERUNTUHAN BANGUNAN DISISI SELATAN DILUAR KOMPLEKS KOLAM
Kalau kembali ke lantai dasar
dan menjelajahi sisi selatan bangunan, akan dijumpai beberapa puing tembok.
Kemungkinan, tembok itu merupakan pembatas antar ruang pesanggrahan. Terdapat
bagian tembok yang unik, sebab permukaannya tidak halus, mungkin dulu memiliki
ornamen. Satu tembok yang masih sangat kokoh berada di bagian paling depan sisi
selatan. Pada tembok itu, terdapat beberapa jendela berbentuk persegi. Keberadaan pesanggrahan
tersebut mempunyai berbagai nilai penting baik sejarah, ilmu pengetahuan dan
kebudayaan. Oleh karena itu, keberadaannya dilindungi oleh Undang-undang RI No.
11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.Semoga situs ini cepat direnovasi.
utara
utara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
,,